logo2

ugm-logo

Blog

BNPB Minta Warga di Wilayah RI Ini Siap-Siap Evakuasi Mandiri, Kenapa?

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia untuk bersiap melakukan evakuasi mandiri karena meningkatnya potensi bencana hidrometeorologi, terutama saat masa pancaroba (peralihan musim). Pada periode ini, cuaca cenderung tidak stabil dengan hujan deras, angin kencang, dan perubahan suhu yang terjadi secara tiba-tiba, sehingga berisiko memicu bencana seperti banjir dan tanah longsor.

BNPB menekankan bahwa evakuasi mandiri penting dilakukan jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama, khususnya bagi warga yang tinggal di daerah rawan bencana. Masyarakat diminta untuk mengenali jalur evakuasi, segera menjauh dari area berbahaya seperti lereng, sungai, atau bangunan rapuh, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi pohon tumbang dan struktur yang bisa roboh saat cuaca ekstrem.

Sejumlah wilayah di Indonesia diperkirakan masih akan mengalami hujan lebat hingga sangat lebat dalam beberapa waktu ke depan, yang dapat meningkatkan risiko bencana. Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak, termasuk dengan langkah cepat seperti evakuasi mandiri sebelum kondisi menjadi lebih berbahaya. 

 

Gempa 7,6 guncang Sulawesi Utara dan Maluku Utara

Gempa bumi magnitudo 7,6 yang berpusat di perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara, pukul 06.48 Wita (atau 05.48 WIB), Kamis (02/04), guncangannya dirasakan warga di Bitung dan Manado (Sulut) hingga Ternate (Maluku Utara).

Sejauh ini gempa menyebabkan satu orang meninggal dunia dan seorang lainnya terluka di Manado akibat tertimpa reruntuhan bangunan, kata Tim SAR.

"Jalanan aspal sampai bergoyang, kencang banget," kata Isvara Safitri, warga Kelurahan Teling Atas, Manado, kepada BBC News Indonesia melalui sambungan telepon, Kamis (02/04).

"Kepala saya sampai pusing," tambahnya. Berbagai perabot di kamarnya, termasuk lemari, sempat bergoyang beberapa detik.

Dia juga mendengar apa yang disebutnya seperti "bunyi gemuruh". Namun dia tidak dapat memastikan sumber suaranya.

sumber: https://www.bbc.com/indonesia/articles/c93elrd3167o

Gerry van Klinken Bicara soal Bencana Sumatera, Kapitalisme sampai Ekososialisme

Gerry van Klinken,  menyalami satu per satu peserta diskusi buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia, yang Maja Book Party adakan di Lebak, Banten, Desember lalu. Antropolog University of Amsterdam Belanda itu, November-Desember lalu ke Indonesia, bertepatan bencana besar, banjir dan longsor melanda Sumatera.

Dia keliling berbagai kota dari Malang, Yogyakarta, Jakarta, Garut, Bogor, Surabaya, Solo, Semarang, Jember, Salatiga, hingga Banten.

Klinken menyuarakan gagasan ekologis, lewat bukunya, Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Lulusan doktor Griffith University Australia ini, menggarap buku itu bersama 17 penulis Indonesia.

Dia memulai karier di bidang geofisika dan tambang. Pada 1984, dia mengajar fisika di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, selama tujuh musim.

Pria kelahiran 1952 itu mengubah haluan kariernya, fokus pada bidang humaniora antara lain terpengaruh aktivisme mahasiswanya, Andreas Harsono dan Yosep Adi Prasetyo, yang ketika itu berjuang berupaya meruntuhkan Orba.

Ketika pensiun, Klinken menjadi “mualaf lingkungan,” istilah yang dia sematkan untuk menggambarkan perjalanan intelektualnya. Dia belajar ilmu lingkungan dan dedikasikan waktu untuk memikirkan nasib bumi di tengah krisis iklim.

Lewat buku terbarunya, Klinken merefleksikan diri bahwa dunia dalam kondisi krisis, namun manusia bingung harus berbuat apa. Dia bilang, dunia modern saat ini kekurangan imajinasi untuk menghadapi krisis iklim.

“Imajinasi kita menjadi dikerdilkan oleh kapitalisme,” katanya.

Dalam bukunya, pria yang menghabiskan masa kecil di Doom, sebuah pulau kecil di Sorong, Papua Barat itu, tidak membicarakan persoalan praktis dan kebijakan lingkungan. Dia fokus pada pemikiran radikal agar tidak memperburuk krisis ekologis saat ini.

Jurnalis Mongabay, Achmad Rizki Muazam, berbincang-bincang dengan Klinken usai diskusi bukunya di Maja, Lebak, Banten.

Obrolan seputar ihwal bencana Sumatera yang hingga kini belum tertangani, dampak ekonomi kapitalis terhadap kerusakan lingkungan, transisi energi yang tidak berkeadilan, hingga imajinasi Klinken untuk menghadapi krisis iklim. Berikut petikan wawancaranya.

selengkapnya: https://mongabay.co.id/2026/03/31/gerry-van-klinken-bicara-soal-bencana-sumatera-kapitalisme-sampai-ekososialisme/

BNPB: Status tanggap darurat bencana di Kudus berlaku hingga Mei

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berlaku hingga 31 Mei 2026 menyusul serangkaian peristiwa hujan deras disertai angin kencang yang merusak ratusan rumah warga.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Rabu, menyatakan status siaga darurat tersebut dituangkan dalam Surat Keputusan Bupati Kudus Nomor 300.2/296/2025 yang mencakup kesiapsiagaan terhadap ancaman banjir, tanah longsor, dan angin kencang guna mempercepat respons penanggulangan bencana.

Menurut Abdul, langkah mitigasi ini juga berlaku untuk penanggulangan bencana angin kencang yang melanda empat desa di Kecamatan Undaan, yakni Desa Terangmas, Kalirejo, Glagahwaru, dan Medini, Senin (30/3) sore.

"Berdasarkan laporan kaji cepat, dua unit rumah warga dilaporkan mengalami rusak berat akibat diterjang angin kencang serta menyebabkan satu warga mengalami luka-luka," kata dia.

Menurut Abdul, penetapan status siaga darurat memungkinkan pengerahan sumber daya yang lebih terpadu antara TNI, Polri, dan relawan dalam melakukan penanganan darurat bagi 397 kepala keluarga yang terdampak.

 

Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB menerima laporan bahwa tim petugas gabungan di Kudus saat ini masih melakukan pendataan mendalam terhadap 395 unit rumah lainnya yang terdampak guna mengelompokkan tingkat kerusakan serta menentukan langkah rehabilitasi lebih lanjut.

BNPB mengimbau otoritas di Jawa Tengah untuk memperkuat koordinasi lintas sektoral mengingat potensi cuaca ekstrem yang diprediksi masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

BNPB: Gempa 7,6 magnitudo di Bitung picu gelombang tsunami kecil

Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendeteksi gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah tenggara Kota Bitung, Sulawesi Utara, memicu gelombang tsunami kecil di sejumlah wilayah pesisir.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Kamis, mengatakan gempa terjadi pada pukul 05.48 WIB dengan pusat di laut pada koordinat 1,25 derajat Lintang Utara (LU) dan 126,25 derajat Bujur Timur (BT) pada kedalaman 62 kilometer.

Berdasarkan pemantauan sistem peringatan dini, terdeteksi gelombang tsunami setinggi sekitar 0,3 meter di wilayah Halmahera Barat pada pukul 06.08 WIB dan 0,2 meter di Bitung pada pukul 06.15 WIB.

“Meski relatif kecil, kondisi ini tetap memerlukan kewaspadaan karena potensi gelombang susulan masih dapat terjadi,” kata dia.

Guncangan gempa dirasakan kuat selama 10 hingga 20 detik di Kota Bitung dan sekitarnya, serta juga dirasakan di Kota Ternate (Maluku Utara) yang menyebabkan masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah.

selengkapnya:  https://sulteng.antaranews.com/berita/380153/bnpb-gempa-76-magnitudo-di-bitung-picu-gelombang-tsunami-kecil